Warga Aceh Tengah Tolak Tambang Emas: “Jangan Hancurkan Sungai dan Hutan Demi Kepentingan Politik”
CYBEKRIMINAL.COM, TAKENGON — Gelombang penolakan terhadap rencana pembukaan tambang emas di wilayah Takengon terus menguat. Masyarakat Aceh Tengah secara tegas meminta pemerintah menghentikan seluruh rencana aktivitas pertambangan yang dinilai berpotensi merusak lingkungan dan mengancam kehidupan warga.
Warga menilai kehadiran tambang emas hanya akan membawa dampak buruk bagi kawasan hulu sungai dan hutan lindung yang selama ini menjadi sumber kehidupan masyarakat. Penolakan datang dari berbagai elemen, mulai dari tokoh masyarakat adat, pemuda, hingga warga di sejumlah wilayah di Kabupaten Aceh Tengah.
Mereka mendesak pemerintah daerah serta pihak perusahaan yang disebut-sebut mengajukan izin tambang agar menghentikan seluruh proses eksplorasi maupun pembahasan perizinan tambang emas di kawasan tersebut.
Menurut warga, kerusakan lingkungan akibat aktivitas tambang bukan ancaman biasa. Sungai yang menjadi sumber air bersih masyarakat dikhawatirkan tercemar, sementara hutan yang selama ini menjadi benteng ekosistem terancam rusak akibat pembukaan lahan.
“Jangan hancurkan sungai dan hutan demi kepentingan politik atau keuntungan segelintir pihak. Rakyat kecil yang akan menanggung dampaknya,” ujar salah seorang warga dalam pernyataan penolakan yang berkembang di tengah masyarakat.
Masyarakat menilai tambang emas tidak memberikan manfaat nyata bagi warga sekitar. Sebaliknya, aktivitas tersebut disebut berpotensi memicu konflik sosial, merusak lahan pertanian, serta mengancam keberlangsungan hidup masyarakat yang bergantung pada alam.
Penolakan ini mencuat di tengah isu masuknya investor tambang ke wilayah Aceh Tengah. Warga menegaskan daerah mereka bukan kawasan industri tambang, melainkan wilayah yang harus dijaga kelestarian alamnya demi generasi mendatang.
Selain meminta penghentian proses perizinan, masyarakat juga mendesak aparat penegak hukum dan instansi terkait untuk mengawasi potensi aktivitas tambang ilegal yang dapat memperparah kerusakan lingkungan.
Warga mengingatkan bahwa berbagai bencana alam yang terjadi selama ini seharusnya menjadi pelajaran penting bagi pemerintah agar lebih bijak menjaga alam, bukan justru membuka ruang bagi aktivitas yang dinilai berisiko merusak kawasan hutan dan sumber air di Aceh Tengah.
Al Abrar
