Mahasiswa KKA Kelompok 4 UM Kendari Dorong Pemanfaatan Sekam Padi Menjadi Briket di Desa Lantawonua
CYBERKRIMINAL.COM, BOMBANA, 5 September 2026 — Mahasiswa Kuliah Kerja Amaliah (KKA) Universitas Muhammadiyah Kendari, Kelompok 4 mendorong masyarakat Desa Lantawonua, Kecamatan Rumbia, Kabupaten Bombana, untuk memanfaatkan limbah sekam padi menjadi briket (Arang) sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan nilai ekonomi potensi lokal dalam Pemberdayaan Masyarakat.
Dorongan tersebut dilakukan oleh Mahasiswa UM Kendari melalui program kerja KKA yang berfokus pada edukasi dan pemberdayaan masyarakat, khususnya petani lokal yang selama ini menghasilkan limbah sekam padi dari aktivitas pertanian.
Caption foto: Mahasiswa KKA Universitas Muhammadiyah Kendari saat memberikan edukasi kepada masyarakat Desa Lantawonua mengenai pemanfaatan limbah sekam padi menjadi briket.
Pemanfaatan sekam padi dipilih karena Desa Lantawonua memiliki potensi pertanian yang cukup besar. Limbah yang dihasilkan dari proses penggilingan padi selama ini belum dimanfaatkan secara optimal, padahal memiliki peluang untuk diolah menjadi produk alternatif yang memiliki nilai guna sekaligus nilai ekonomi.
Kepala Desa Lantawonua, Hj. Kurniawaty Hasmin Marunta, S.P., mengatakan sebagian besar petani di wilayahnya belum memanfaatkan sekam padi untuk diolah menjadi briket. Sekam umumnya dibakar atau digunakan sebagai bahan campuran pupuk tanaman dll.
“Mayoritas petani di Desa Lantawonua belum memanfaatkan sekam padi untuk diolah menjadi briket. Sebagian besar memilih membakar sekam tersebut, sementara sebagian lainnya memanfaatkannya sebagai pupuk,” ujar Hj. Kurniawaty saat ditemui di lokasi kegiatan.
Menurutnya, pengolahan limbah pertanian menjadi produk alternatif dapat menjadi langkah awal untuk mendorong masyarakat melihat potensi yang tersedia di lingkungan sekitar sebagai sumber daya yang masih dapat dikembangkan oleh potensi lokal.
Hal serupa juga disampaikan Oleh Jusnar, S. P. Sebagai salah satu seorang petani lokal Desa Lantawonua. Ia mengatakan sekam padi yang dihasilkan dari aktivitas pertanian masyarakat selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal.
“Sebagian besar petani di Desa Lantawonua belum memanfaatkan sisa limbah kulit padi atau sekam. Biasanya sekam dibakar, sebagiannya lagi digunakan sebagai pupuk tanaman, dan sebagian lainnya dibiarkan tanpa dimanfaatkan sama sekali,” kata Jusnar.
Program edukasi tersebut diharapkan tidak berhenti pada pengenalan teknik pengolahan limbah, tetapi dapat membuka wawasan masyarakat mengenai peluang pengembangan usaha berbasis pemanfaatan potensi lokal. Pemanfaatan sekam menjadi briket juga diharapkan dapat menjadi alternatif dalam mengurangi limbah pertanian yang selama ini belum dikelola secara optimal.
[FOTO 2k
Caption Foto: Hasil pengolahan limbah sekam padi menjadi briket yang diperkenalkan dalam program kerja mahasiswa KKA di Desa Lantawonua.
Alat dan bahan yang di gunakan, yaitu;
• Kulit padi/ sekam padi
• Tepung Kanji
• Kapur
• Air Hangat
• Panci Bekas/kuali bekas
• Alat Pengaduk Pembakaran
• Alat Pencetakan Pipa besi bekas
Meski demikian, pelaksanaan program masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah keterbatasan peralatan produksi, khususnya alat pencetakan briket. Selain itu, peningkatan pengetahuan teknis masyarakat masih diperlukan pengembangan Edukasi agar proses pengolahan sekam padi dapat dilakukan secara tepat dan berkelanjutan.
Kedepan, diperlukan dukungan pemerintah desa dan masyarakat, baik dalam penyediaan peralatan maupun pendampingan teknis. Dukungan tersebut dinilai penting agar pemanfaatan limbah sekam padi tidak hanya menjadi kegiatan edukasi, tetapi dapat berkembang menjadi salah satu bentuk pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan.
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa KKA Universitas Muhammadiyah Kendari, berharap pemanfaatan limbah sekam padi dapat menjadi salah satu alternatif pengembangan potensi lokal sekaligus mendorong kemandirian ekonomi masyarakat Desa Lantawonua, Kec. Rumbia, Kab. Bombana.
Laporan: Ruslan

