Cerita Rakyat Zaman Now: Ketika Pecundang Bersuara Soal Pemimpin, Sukanya Hanya Menyanjung
CYBERKRIMINAL.COM, ACEH - Hari ini kita bongkar tuntas watak pecundang di tengah riuhnya ruang publik yang tak pernah lepas dari sorotan.
Konon, di tengah kerumunan massa, ketika muncul pemimpin yang sigap dan loyal mengurus keluhan rakyat, para pecundang mendadak berubah menjadi penyanjung setia. Pujian dilantunkan setinggi langit, seolah baru hari itu mereka mengenal kata “bijak” dan “tanggung jawab”.
Namun ketika berhadapan dengan pemimpin yang lamban dan abai, pecundang pun berganti topeng. Mereka pura-pura tuli, pura-pura buta. Keluhan masyarakat yang nyaring di jalan, mendadak senyap di telinga mereka. Diamnya lebih bising dari seribu kritik.
Yang paling menggelitik, di saat itulah para pecundang paling rajin berkelana membawa cerita. Mereka berkeliling menebar kisah tentang pemimpin yang kurang bijak, kurang tanggap, kurang peduli. Berlagak paling vokal, padahal saat diberi ruang untuk bicara jujur dan terbuka, mulutnya terkunci rapat.
Masyarakat pun bertanya: di mana sebenarnya letak kepedulian itu? Apakah pada saat berdiri memuji di depan panggung, atau saat pura-pura tidak tahu ketika rakyat butuh suara?
Begitulah kisah rakyat zaman now. Pecundang selalu bermuka dua. Di depan pemimpin yang bekerja, ia menjadi penyanyi pujian. Di belakang pemimpin yang lalai, ia menjadi pendongeng keluhan.
“Dan seperti dongeng lama, pada akhirnya masyarakat sendirilah yang bisa membedakan siapa yang benar-benar bekerja, dan siapa yang hanya pandai bersuara tanpa pernah bertindak,” ujar Luges, pengamat cerita rakyat.
Penulis: Hendrik
