Takengon Tidak Sedingin Dulu Lagi! Batu Giyok Hilang, Warga Gayo: Dulu Air di Ember Bisa Jadi Es, Sekarang Tidur Pakai Kipas Angin!
CYBERKRIMINAL.COM, TAKENGON, ACEH TENGAH Ada yang hilang dari Kota Takengon. Bukan hilang dicuri, tapi hilang karena alam sudah berubah. Namanya Batu Giyok embun beku legendaris yang dulu jadi kebanggaan orang Gayo setiap musim kemarau, Takengon, 7 November 2026.
Dulu, Takengon dikenal sebagai kota paling dingin di Aceh. Sekarang, warga mengeluh Takengon sudah tidak sedingin dulu lagi.
HILANG Fenomena Batu Giyok. Embun beku yang berubah jadi batu-batu es kecil di atas rumput, atap seng, dan daun kopi. Kalau pagi diinjak, bunyinya krek-krek_. Dulu hampir tiap pagi ada di bulan Juni - Agustus. Sekarang sudah hampir 10 tahun tidak pernah muncul lagi.
Di seluruh dataran tinggi Gayo, khususnya di Kecamatan Kebayakan, Pegasing, Bies, dan dan batu lintang jagong bintang Kabupaten Aceh Tengah. Daerah yang dulu jadi langganan Batu Giyok.hutanya sangat indah di pandang
Terakhir warga masih ramai melihat Batu Giyok sekitar tahun 2015-2016. Setelah itu, fenomena itu hilang total. Warga yang dulu sempat foto pegang es di daun kopi, sekarang hanya bisa cerita ke anak anak kita
Masyarakat Gayo, khususnya orang tua dan petani kopi. Mereka yang merasakan perubahan paling pahit.
Salah satu warga Kebayakan mengaku: Dulu Takengon dingin sekali. Air di ember kalau malam bisa jadi es. Sekarang sudah kurang dinginnya. Sudah habis Batu Giyoknya. Dulu musim batu di Takengon, sekarang tidak ada lagi.
Hutan Habis Jadi Kebun Kopi Dulu sekeliling Takengon hutan lebat. Sekarang hutan habis ditebang, jadi kebun kopi sampai ke puncak. Hutan itu yang bikin dingin dan simpan air.
Banyak Beton dan Aspal:* Dulu rumah masih kayu dan papan. Sekarang rumah beton semua, jalan aspal semua. Panas tidak diserap tanah lagi.
Danau Lut Tawar Makin Dangkal:* Danau yang dulu jadi pendingin alami Takengon, sekarang airnya surut dan pinggirnya jadi bangunan.
Pemanasan Global:* Suhu dunia naik 1-2 derajat, Takengon ikut kena imbasnya.
Dulu warga tidur harus pakai selimut tebal 2 lapis dan jaket kulit. Sekarang banyak anak muda tidur pakai kipas angin.
Dulu pagi-pagi warga pakai sarung tangan untuk petik kopi karena tangan beku. Sekarang petik kopi pagi-pagi sudah berkeringat.
Petani kopi mulai khawatir, karena kopi Gayo yang terkenal enak itu butuh hawa dingin. Kalau Takengon makin panas, rasa kopi Gayo bisa berubah.
Warga mendesak pemerintah dan semua pihak untuk berhenti menebang hutan di hulu Danau Lut Tawar.
Kalau hutan terus ditebang, bukan cuma Batu Giyok yang hilang. Kopi Gayo pun bisa hilang. Takengon yang dingin itu sudah jadi kenangan, jangan sampai Danau Lut Tawar pun jadi kenangan, tegas warga.
Warga berharap ada gerakan tanam pohon lagi di Takengon, agar anak cucu nanti masih bisa merasakan dinginnya Takengon dan melihat Batu Giyok seperti zaman dulu.
( Al abrar )
