BREAKING NEWS

 


Distribusi MBG ke Sekolah Tanpa Siswa di Sampang Tuai Sorotan Publik

CYBERKRIMINAL.COM, SAMPANG — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah sebagai upaya peningkatan kualitas gizi peserta didik kini menjadi perhatian publik di Kabupaten Sampang. Di Desa Batuporo Timur, Kecamatan Kedungdung, muncul informasi terkait pendistribusian MBG ke SDN Batuporo Timur 1, sekolah yang berdasarkan kondisi faktual di lapangan diketahui tidak lagi memiliki peserta didik aktif.

Sorotan tersebut mengarah pada SPPG Savina Syafira Batuporo Barat yang berada di bawah naungan Yayasan Oofy Nusantara Adikarya. Berdasarkan informasi yang dihimpun, penyaluran paket MBG tetap dilakukan meskipun sekolah penerima disebut tidak memenuhi salah satu kriteria utama program, yakni keberadaan siswa aktif sebagai penerima manfaat.

Sumber informasi menyebutkan bahwa penentuan titik distribusi MBG sejak awal mengacu pada data resmi Koramil. Dengan merujuk pada data tersebut, kondisi sekolah penerima seharusnya telah teridentifikasi sebelum pendistribusian dilakukan. Namun demikian, berdasarkan temuan di lapangan, distribusi tetap berjalan tanpa adanya penyesuaian.

Akibat kondisi tersebut, paket makanan bergizi yang diproduksi menggunakan anggaran negara tidak diterima oleh sasaran utama program. Informasi yang diterima menyebutkan bahwa paket MBG hanya diletakkan di area halaman sekolah tanpa adanya penyerahan langsung kepada penerima manfaat sebagaimana diatur dalam pedoman pelaksanaan program.

Aktivis asal Sampang, Zai, menilai persoalan ini perlu mendapat perhatian serius dari pihak terkait. Menurutnya, kondisi tersebut tidak bisa dipandang sebagai persoalan administratif semata.

“Kalau sekolah itu tidak memiliki siswa, lalu untuk siapa MBG dikirim? Ini uang negara, bukan milik pribadi pengelola,” ujar Zai saat dimintai keterangan, Kamis (22/1/2026).

Zai menegaskan bahwa program MBG memiliki sasaran yang jelas, terukur, dan terverifikasi. Apabila sasaran tidak tersedia, menurutnya, distribusi seharusnya dihentikan sementara atau dilaporkan untuk dilakukan evaluasi lebih lanjut.

Polemik ini semakin mencuat setelah beredar klaim di media sosial yang menyebutkan bahwa paket MBG tersebut kemudian dibagikan kepada guru serta sebagian warga di sekitar sekolah. Klaim tersebut masih memerlukan klarifikasi dari pihak terkait, mengingat pembagian di luar sasaran utama dinilai tidak sejalan dengan tujuan program.

“MBG bukan untuk konsumsi umum dan bukan jatah guru. Ketika dibagikan ke luar sasaran, itu berarti fungsi program sudah menyimpang,” kata Zai.

Dalam pedoman resmi, MBG dirancang untuk meningkatkan status gizi peserta didik secara terencana dan berkelanjutan. Ketidaktepatan sasaran berpotensi mengurangi efektivitas program serta menimbulkan penggunaan anggaran yang tidak optimal.

Hingga berita ini diturunkan, Wakil Bupati Sampang selaku Ketua Satuan Tugas (Satgas) MBG Kabupaten Sampang belum memberikan keterangan resmi. Upaya konfirmasi yang dilakukan melalui pesan singkat WhatsApp juga belum memperoleh tanggapan.

Persoalan ini menjadi bahan evaluasi bagi sistem pengawasan pelaksanaan program nasional di daerah. Ketepatan sasaran dan transparansi pelaksanaan dinilai penting guna menjaga akuntabilitas anggaran negara serta kepercayaan publik terhadap kebijakan pemerintah di bidang pemenuhan gizi anak. (Fit)


Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image