Labuhan Batu: Ketua GMNI Dianiaya, Kamera Dirampas, Bukti Video Hilang
0 menit baca
CYBERKRIMINAL.COM, LABUHAN BATU — Ketegangan agraria di Labuhan Batu memuncak saat Ketua GMnI hadir untuk mengadvokasi warga dan merekam kondisi lapangan. Dokumentasi yang seharusnya mencatat fakta berubah menjadi medan konfrontasi langsung dengan aparat.
Sejumlah oknum polisi merampas kamera dan ponsel Ketua GMnI secara paksa. Setiap upaya merekam fakta dibungkam, alat dokumentasi dihancurkan, dan bukti video dihapus paksa. Tidak ada peringatan, tidak ada negosiasi; kekerasan berlangsung cepat dan sistematis.
Ketua GMnI kemudian dianiaya fisik secara brutal. Ia diinjak-injak berulang kali di tanah, kehilangan kemampuan bergerak, dan sesak di bagian dada. Setiap gerakan dibatasi, ruang advokasi dan dokumentasi dihancurkan. Tidak ada pertolongan; penganiayaan berlangsung di depan warga dengan intensitas mematikan.
Advokasi yang seharusnya terbuka berubah menjadi konfrontasi total. Bukti rekaman yang sempat ada lenyap, hilang dari ruang publik, meninggalkan kesunyian yang mematikan di lokasi konflik. Kekerasan fisik ini menegaskan bahwa ruang advokasi mahasiswa tidak diakui oleh aparat.
Netizen bersuara keras menyoroti pola kekerasan ini. Akun Liadewi menulis, “Uda gak dipake lagi dasar Pancasila… dipakenya Pancasila cuma pada saat upacara aja… kalo sekarang banyak yang mentingkan perut dan kantongnya masing-masing, ini lah negeri Konoha.” Akun Lamsor Panjaitan menambahkan, “Inilah polisi perusahaan bertindak bahkan bisa membunuh, bukan polisi negara yang punya ilmu keadilan.” Cuitan lain menyoroti sistem kekerasan, “Mengapa keamanan pihak kepolisian selalu berada di perusahaan dan orang berduit… padahal mereka digaji uang masyarakat untuk menjaga rakyat, tak ngetilah negeri ini.” Kritik netizen menegaskan bahwa penganiayaan dan hapus bukti bukan insiden, tapi pola mematikan.
Insiden ini menegaskan ancaman nyata bagi mahasiswa yang mengadvokasi di tengah konflik agraria. Tindakan paksa, penganiayaan fisik brutal, dan pembungkaman bukti tidak meninggalkan ruang untuk dialog: hanya kekerasan yang mematikan dan konsekuensi nyata bagi mereka yang mencoba merekam fakta.
Rz




