Puluhan Rumah Terbengkalai di Aceh Tengah, Warga Menunggu Tanpa Kepastian: Program Bantuan Diduga Gagal Total
CYBERKRIMINAL.COM, TAKENGON, 1 MEI 2026 - Program rumah bantuan di Aceh Tengah kembali menuai sorotan tajam. Di Desa Damar Mulio dan Desa Gayo Murni, puluhan penerima bantuan justru dibiarkan menggantung tanpa kejelasan, memicu kekecewaan dan kemarahan warga.
Di Desa Damar Mulio, sedikitnya enam unit rumah bantuan terbengkalai. Sementara di Desa Gayo Murni, jumlahnya lebih mencolok, sekitar dua puluh unit belum juga tersentuh penyelesaian. Ironisnya, proyek ini sempat dihentikan dengan dalih bencana alam di Aceh Tengah. Namun setelah situasi dinyatakan kondusif, pengerjaan tak kunjung dilanjutkan.
Warga penerima bantuan kini berada di titik frustrasi. Harapan memiliki hunian layak berubah menjadi beban baru. Sebagian bahkan telah membongkar rumah lama demi memenuhi syarat pembangunan rumah bantuan, keputusan yang kini berbalik menjadi penderitaan.
“Tidak ada kepastian. Kami seperti ditelantarkan,” ungkap salah satu penerima bantuan dengan nada kecewa.
Upaya konfirmasi yang dilakukan wartawan kepada pihak Perkim Banda Aceh berujung buntu. Tidak ada respons, tidak ada penjelasan, seolah persoalan ini dibiarkan menguap tanpa tanggung jawab.
Lebih jauh, keterangan dari pihak kontraktor menambah tanda tanya besar. Disebutkan bahwa kontrak pekerjaan telah diputus, sementara anggaran dialihkan untuk penanganan bencana alam di Aceh Tengah. Alasan ini memantik polemik: bagaimana mungkin dana yang telah diperuntukkan bagi rakyat kecil justru dialihkan, sementara penerima bantuan dibiarkan tanpa kepastian?
Situasi ini bukan sekadar kelalaian administratif, ini potret nyata buruknya pengelolaan program bantuan yang menyentuh langsung hajat hidup masyarakat. Ketika rumah yang dijanjikan tak kunjung berdiri, yang runtuh bukan hanya bangunan, tetapi juga kepercayaan publik.
Kini, publik menunggu jawaban tegas dari Perkim Banda Aceh. Transparansi dan tanggung jawab mutlak diperlukan. Warga tidak butuh janji—mereka butuh kepastian. Jika tidak, program bantuan ini layak disebut bukan sebagai solusi, melainkan bentuk penelantaran yang terstruktur.
